KISAH PANJANG KOES PLUS


SUMBER: Majalah TOP No. 26
KOES PLUS memulai kisah perjalanannya yang panjang di dunia musik dengan band Teen Ager’s Voice yang dibentuk Tonny Koeswoyo sekitar tahun 1952.Setelah bertukar nama menjadi Irama Remaja dengan anggotanya Sophan Sophian ,band ini terpaksa dikubur untuk kemudian Koes & Bros. Dalam grup terbaru anak2 pak Koeswoyo itu terselip pula nama Jan Mintaraga yang sekarang dikenal sebagai pelukis komik. Baca Kelanjutannya..

Rabu, 24 Juni 2009

SENSASI-SENSASI YUKAWI

Nama Nomo Koeswoyo barangkali bakal dicatat sebagai legendaris dalam blantika musik; sebagai otak menager dari mulai yang penuh sensasi humor sampai yang keras2 gawat!!Coba anda catat sensasi2 yang nyelekit dalam persaingan blantika musik ini.

Contoh kesatu :

Dialah yang memimpin acara jumpa pers, tatkala No Koes pertama kali didirikan diawal tahun 73. Dia memiliki sensasi2 yang galak, tatkala menyelamati nama band-nya itu dengan nama NoKoes. Asosiasi public musik bisa saja kearah kata” Anti Koes Plus”. Sensasi lainnya misalnya bikin band dengan nama PATAS Tanpa Murry.

Kedua:

Dalam jumpa pers dulu, Nomo sengaja menyuruh crew NoKoes lainya (yang bekas Usman Bersaudara) ngumpet dari pers. Pers hanya mampu menduga-duga siapa sebenarnya yang lungguh dibelakang formasi No Koes kala itu. Ini merupakan sensasi besar, sebab setelah itu pers lantas sibuk mencari data tentang No Koes. Dengan begitu berita NoKoes selalu hadir di mas madia.

Ketiga:

Sampai beberapa album banyaknya, No Koes muncul dalam cover plat + kaset tanpa foto para pemain. Dengan begitu, pers-pun tetap disibukan dengan ulah Nomo ini.

Keempat:

Tampilnya semacam perang urat syaraf dengan sesama saudara, yakni versus Koes Plus, yang sampai saat ini ber-alas-kan permadani kemewahan Remaco: dilungguhkan sebagai ”Dewa dalam musik”

Itu barangkali sebagian kecil yang bisa diingat. Begitu pula tatkala Yukawi menampilkan nama Kembar Group (Bar Bros) dan No Bo. Kalau Bar Bros konon melungguhkan kembali kharisma pop duet Yon-Yok, maka NoBo punya dua biji sensasi atau lebih,yang sama persis dengan sensasi ala NoKoes. Dari namanya jelas se-olah2 menimang2 kemampuan Bimbo. Sudah tahu musiknya mirip2 Bimbo, kenapa dikasih nama NoBo? Bikin merah muka anak Bimbo aja !.Kedua dalam album pertama group itu,Yukawi tanpa menyebutkan:ciptaan siapa lagu2 itu. Kecuali kata2: ciptaan NoBo begitu saja. Dengan sendirinya, pembeli kaset/plat Cuma mampu bertanya2. Saking besarnya tanda tanya, dan saking hebatnya persamaan NoBo dengan Bimbo,maka publik Bandung pun gempar dengan peredaran kaset ini. Misalnya beberapa komentar penyiar radio di Bandung, macam yang dikutip Aktuil dari mulut Wawan:” Beberapa radio Bandung sebelum memutar lagu NoBo lebih dulu berkomentar: Ini merupakan group Bimbo yang merekam lagu2nya di Yukawi. Lantas ada komentar lain yang mengatakan,kono Nomo Koeswoyo dan NoKoes-nya join dengan Bimbo dan membuat nama group NoBo. Dan ada lagi yang konyol.Konon No Koes membuat lagu2 ala Bimbo dan direkam di Yukawi”. Bukan main memang intrik sensasi ini. Dan jangan dilupa pula bahwa peredaran kaset/plat NoBo Vol.1 juga tampil tanpa gambar tampang pemain. Dan hingga saat berita ini ditulis, ternyata NoBo masih belum mau pula untuk mengadakan jumpa pers macam dulu2. alasannya ” Biar orang2 mencari dia dulu!” kata Nomo. Ini memang sensasi sampai2 sang bapak ’ Koeswoyo Senior geleng kepala dengan sensasi Nomo. Komentarnya Cuma sekalimat ini: ”Mas Nomo memang ulet orangnya!”. Karena uletnya itulah, tatkala dibulan Januari; Tonny Koeswoyo ber-ulang-tahun,maka benggolan Koes Plus itu menyempatkan diri ke Yukawi.Tanpa diduga Tonny berbisik pada Nomo:” Kowe luwih sukses timbang aku" ( kamu lebih sukses ketimbang saya). Sudah tentu kalimat ini bukan dibisikan didepan kuping wartawan, tapi hasil wartawan menjiplak omongan Nomo Koeswoyo. Adakah omongan satu ini juga sensasi?? Saya kira tidak sebab dalam blantika ini, konon semua cara yang ugal2-an sekalipun dibiarkan saja. Contoh iklan2 yang banyak ngebohong!.

Sumber: Majalah AKTUIL

Ditulis ulang sesuai ASLINYA untuk penggemar KOES PLUS

2 komentar:

  1. waah ternyata jaman dulu persaingan dunia musik udah segitu sengitnya

    padahal record company khan masih sedikit

    mantapp boss artikelnya :)

    BalasHapus
  2. Hm.... saya masih ingat,majalah Aktulil yang memuat naskah itu, merupakan salah satu yg saya beli (saat itu). Sayangnya tidak saya dokumentasi baik, gara-gara hrs pindah rumah dari Malang ke Surabaya, jadi dokumentasi seperti itu berantakan. Dengan membaca tulisan diatas, sadar bahwa inilah pentingnya dokumentasi. Terima kasih Pak Toto Sugiarto - ini juga dokumentasi yg hebat.

    BalasHapus

test komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini